Media Massa Bagian Media Cetak
1. Sejarah Media Cetak Di Dunia
Perkembangan Jurnalistik sudah nampak ketika sejak berdirinya kerajaan Romawi, segala sesuatu kegiatan keputusan selalu di catat pada papan pengumuman berupa papan tulis yang pada masa itu (60 SM) di kenal sebagaiacta diurna dan di letakkan di Forum Romanum (Stadion Romawi), para budak Romawi mengumpulkan berita setiap hari, dari acta diurnal itulah mereka memperoleh berita – berita tentang segala sesuatu yang terjadi di negri dan kerajaannya. Dari acta diurna itu para budak pencari berita itu dijulukiDiurnarius (tunggal) atau diurnarii (jamak). Lama kelamaan tugas para Diurnarisitu menjadi luas, budak belian yang bekerja sebagai Diurnarius di sebut sebagaislavereporter di antara nama- nama yang bermunculan, di kenallah Chrestus dan Marcus Caelius. Umur acta diurna hanya mencapai lima abad, setelah kerajaan Romawi runtuh, maka hilang pula acta diurna itu. Sejak hilangnya acta diurnahingga kira-kira 1000 SM para ahli sejarah Eropa tidak lagi dapat menunjukan bukti-bukti adanya praktik –praktik jurnalistik seperti yang di lakukan orang-orang Romawi hingga abad pertengaha.
Di dalam keterangan Tacitus (ahli sejarah) menjelaskan beberapa hambatan kegiatan jurnalistik pada zaman Romawi
1. Pada umumnya public tidak begitu senang terhadap berita- beritasensasi yang berlebihan.
2. Sejak dulu primeur journalisticus (memperoleh produk jurnalistik paling awal) merupakan syarat terpenting dalam karya penyiaran atau pemberitaan.
3. Sejak dulu pula abone (pelanggan) yang rewel itu ada.
Menurut sejarah, seorang ahli dari Jerman, Pemilik nama lengkap Johannes Gutenberg ini menemukan mesin cetak yang akhirnya digunakan untuk mencetak bible (kitab suci). Ini terjadi pada tahun 1453. Sebelumnya Gutenberg menulis secara manual, kitab-kitab suci tersebut. Namun dengan bantuan mesin cetak, kitab suci yang dihasilkan jauh lebih banyak. Sebelum ada revolusi Gutenberg, buku-buku di eropa disalin dengan menggunakan Manu Script. selain memakan waktu yang lama, harga buku-buku tersebut tergolong mahal dan hanya bisa dibeli oleh orang-orang yang mampu. Dengan ditemukannya mesin cetak, perkembangan ilmu dan pengetahuan waktu itu semakin pesat, bahkan tidak hanya untuk bangsa Eropa saja tetapi juga sampai ke Timur Tengah. Melalui buku-buku yang dicetak pada waktu itu, minat baca masyarakat menjadi tinggi. Kitab suci yang awalnya ditulis manual oleh Gutenberg saat itu juga dicetak dengan bahasa lain, tidak hanya bahasa latin. ini yang akhirnya membuat gerakan kaum protestan.
Salah satu bentuk hasil dari media cetak adalah surat kabar. Surat kabar penerbitnya ringan dan mudah dibuang, biasanya dicetak pada kertas berbiaya rendah yang disebut kertas Koran, yang berisi berita-berita terkini dalam berbagai topik. Surat kabar awalnya muncul berkembang di Eropa, khususnya di Inggris dan Amerika Utara. Tahun 1702 muncul Daily Courant lalu Revue pada tahun 1704. Sedangkan di Amerika, surat kabar baru terbit setelah beberapa tahun Amerika mencapai kemerdekaannya (1776). Namun pada awalnya, surat kabar hanya diperuntukkan bagi kaum elit dan terpelajar. Secara fisik, bentuk Koran pada saat itu masih sangat sederhana dan menggunakan biaya yang sangat murah, tetapi jangkauannya meluas. Pada tahun 1830 surat kabar sudah mewabah di New York. Ini adalah saat kejayaan surat kabar yang akhirnya mewabah ke seluruh pelosok dunia.
2. Sejarah Media Cetak Di Dunia
Di Indonesia, media cetak mempunyai peranan sendiri di tengah masyarakat hingga sekarang, ada 5 periode perkembangan media cetak di Indonesia di antaranya:
2.1 Zaman Belanda
Pada tahun 1744 dilakukanlah percobaan pertama untuk menerbitkan media massa dengan diterbitkannya surat kabar pertama pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal Van Imhoff dengan nama Bataviasche Nouvelles, tetapi surat kabar ini hanya mempunyai masa hidup selama dua tahun. Kemudian pada tahun 1828 diterbitkanlahJavasche Courant di Jakarta yang memuat berita-berita resmi pemerintahan, berita lelang dan berita kutipan dari harian-harian di Eropa. Mesin cetak pertama di Indonesia juga datang melalui Batavia (Jakarta) melalui seorang Nederland bernama W. Bruining dari Rotterdam yang kemudian menerbitkan surat kabar bernama Het Bataviasche Advertantie Blad yang memuat iklan-iklan dan berita-berita umum yang dikutip dari penerbitan resmi di Nederland (Staatscourant).
Di Surabaya sendiri pada periode ini telah terbit Soerabajasch Advertantieblandyang kemudian berganti menjadi Soerabajasch Niews en Advertantiebland. Sedang diSemarang terbit Semarangsche Advertetiebland dan De Semarangsche Courant. Secara umum serat kabar-surat kabar yang muncul saat itu tidak mempunyai arti secara politis karena cenderung pada iklan dari segi konten. Tirasnya tidak lebih dari 1000-1200 eksemplar tiap harinya. Setiap surat kabar yang beredar harulah melalui penyaringan oleh pihak pemerintahan Gubernur Jenderal di Bogor. Tidak hanya itu, surat kabar Belandapun terbit di daerah Sumatera dan Sulawesi. Di Padang terbit Soematra Courant, Padang Handeslsbland dan Bentara Melajoe. Di Makasar (Ujung Pandang) terbit Celebes Courantdan Makassarsch Handelsbland.
Pada tahun 1885 di seluruh daerah yang dikuasai Belanda telah terbit sekitar 16 surat kabar dalam bahasa Belanda dan 12 surat kabar dalam bahasa Melayu seperti, Bintang Barat, Hindia-Nederland, Dinihari, Bintang Djohar (terbit di Bogor), Selompret Melayu dan Tjahaja Moelia, Pemberitaan Bahroe (Surabaya) dan surat kabar berbahasa Jawa, Bromatani yang terbit di Solo
2.2 Zaman Jepang
Saat wajah penjajah berganti dan Jepang memasuki Indonesia, surat kabar-surat kabar yang beredar di Indonesia diambil alih secara pelan-pelan. Beberapa surat kabar disatukan dengan alasan penghematan namun yang sebenarnya adalah agar pemerintah Jepang memperketat pengawasan terhadat isi surat kabar. Kantor Berita Antara diambil alih dan diubah menjadi kantor berita Yashima dengan berpusat di Domei, Jepang. Konten surat kabar dimanfaatkan sebagai alat propaganda untuk memuji-muji pemerintahan Jepang. Wartawan Indonesia saat itu bekerja sebagai pegawai sedang yang mempunyai kedudukan tinggi adalah orang-orang yang sengaja didatangkan dari Jepang.
Salah satu surat kabar yang terbit pada masa ini adalah Tjahaja (ejaan baru Cahaya). Surat kabar ini sudah menggunakan Bahasa Indonesia dan penerbit berada di kota Bandung. Surat kabar ini terbit di Indonesia namun berisikan berita tentang segala kondisi yang terjadi di Jepang. Para pemimpinnya di antaranya adalah Oto Iskandar Dinata, R. Bratanata, dan Mohamad Kurdi.
Pada tampilan tampak bahwa surat kabar tersebut bertuliskan tanggal 24 Shichigatsu 2604, yang pada penanggalan masehi sama dengan tanggal 24 Juli 1944.
2.3 Zaman Kemerdekaan
Ketika pemerintah Jepang menggunakan surat kabar sebagai alat propaganda pencitraan pemerintah, Indonesiapun melakukan hal yang sama untuk melakukan perlawanan dalam hal sabotase komunikasi. Edi Soeradi melakukan propaganda agar rakyat berdatangan pada Rapat Raksasa Ikada pada tanggal 19 September 1945 untuk mendengarkan pidato Bung Karno. Dalam perjalanannya, Berita Indonesia (BI) berulang kali mengalami pembredelan dimana selama pembredelan tersebut para pegawai kemudian ditampung oleh surat kabar Merdeka yang didirikan oleh B.M. Diah. Surat kabar perjuangan lainnya adalah Harian Rakyat dengan pemimpin redaksi Samsudin Sutan Makmr dan Rinto Alwi dimana surat kabar tersebut menampilkan “pojok” dan “Bang Golok” sebagai artikel. Surat kabar lainnya yan terbit pada masa ini adalah Soeara Indonesia, Pedoman Harian yang berubah menjadi Soeara Merdeka (Bandung), Kedaulatan Rakyat (Bukittinggi),Demokrasi (Padang) dan Oetoesan Soematra (Padang).
2.4 Zaman Orde Lama
Setelah dikeluarkannya dekrit presiden tanggal 5 Juli 1959 oleh presiden Soekarno, terdapat larangan terhadap kegiatan politik termasuk pers. Persyaratan untuk mendapat Surat Izin Terbit dan Surat Izin Cetak diperketat yang kemudian situasi ini dimanfaatkan oleh Partai Komunis Indonesia untuk melakukan slowdown atau mogok secara halus oleh para buruh dan pegawai surat kabar. Karyawan pada bagian setting melambatkan pekerjaannya yang membuat banyak kolom surat kabar tidak terisi menjelang batas waktu cetak (deadline). Pada akhirnya kolom tersebut diisi iklan gratis. Hal ini menimpa surat kabar Soerabaja Post dan Harian Pedoman di Jakarta. Pada periode ini banyak terjadi kasus antara surat kabar pro PKI dan anti PKI.
2.5 Zaman Orde Baru
Pada periode ini, surat kabar yang dipaksa untuk berafiliasi kembali mendapatkan pribadi awalnya, seperti Kedaulatan Rakyat yang pada zaman orde lama harus berganti menjadi Dwikora. Hal ini juga terjadi pada Pikiran Rakyat di Bandung. Bahkan pers kampuspun mulai aktif kembali. Namun dibalik itu semua, pengawasan dan pengekangan pada pers terutama dalam hal konten tetap diberlakukan. Pemberitaan yang dianggap merugikan pemerintah harus dibredel dan dihukum dengan dilakukan pencabutan SIUP seperti yang terjadi pada Sinar Harapan, tabloid Monitor dan Detik serta majalah Tempo dan Editor. Pers lagi-lagi dibayangi dalam kekuasaan pemerintah yang cenderung memborgol kebebasan pers dalam membuat berita serta menghilangkan fungsi pers sebagai kontrol sosial terhadap kinerja pemerintah. Pembredalanpun marak pada periode ini
3. Jenis – Jenis Media Cetak Di Indonesia
Dari segi formatnya dan ukuran kertas, media massa cetak secara rinci meliputi
a. Koran atau Surat Kabar (ukuran kertas broadsheet atau ½ plano),
b. Tabloid ( ½ broadsheet),
c. Majalah ( ½ tabloid atau kertas folio atau kwarto),
d. Buku ( ½ majalah)
e. Newsletter (folio/kwarto, jumlah halaman lazimnya 4-8), dan
f. Bulletin ( ½ majalah, jumlah halaman lazimnya 4-8).
4. Karakteristik Media Cetak
Media cetak membebaskan khayalak dari tirani prime time. Koran atau majalah memberikan infomasi yang dapat dibaca kapan saja, sesuka khayalak dan bukan pada waktu yang ditentukan (sepertihalnya di radio dan televise). Tergolong praktis, cepat, dengan harga terjangkau. Daya jangkau dan edar media cetak dapat sampai pelosok. Dapat bertahan tidak satu kali lalu habis. Kedalaman liputan, liputan bersifat informative dengan narasi yang cukup panjang diperlukan. Bersifat massal, fleksibel, dan dapat dibaca dimana saja dan kapan saja. Berikut karateristik media cetaks seperti surat kabar, majalah dan tabloid:
1. Publisitas , penyebaran pada publik atau khalayak.
2. Cover sebagai daya tarik, cover dapat menjadi cirri suatu majalah yang membedakan dengan yang lain.
3. Periodesitas, menunjuk pada keteraturan terbit.
4. Universal, menunjuk pada kesemestaan isinya, aneka ragam, meliputi seluruh aspek kehidupan manusia.
5. Aktualitas, menunjuk pada kekinian atau terbaru dan masih hangat.
6. Terdokumentasikan, dapat di simpan untuk menjadi rujukan sejarah.
7. Penyajian lebih dalam, karena majalah pada umumnya adalah mingguan, dwimingguan, bulanan sehingga memiliki waktu cukup lama untuk memahami dan mempelajari peristiwa.
8. Nilai aktualitas lebih, membaca majalah tidak pernah di tuntaskan sekaligus akan tetapi actual hingga terbit yang baru.
9. Gambar foto lebih banyak, majalah dapat menampilkan foto lengkap, ukuran besar dan kualitas cetak yang lebih baik.
Terimakasih semoga bermamfaat untuk kalian dan orang lain.
.
.
.
Sumber :






